Potensi Pengembangan Tukik di Kabupaten Pangandaran

Penyu laut adalah adalah hewan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bawah permukaan laut.  Induk betina dari hewan ini hanya sesekali kedaratan untuk meletakkan telut-telurnya di darat pada substrate berpasir yang jauh dari pemukiman penduduk.  Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 sampai 8 tahun sekali.

Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam. Sangat kecilnya presentase tersebut lebih diperparah lagi dengan penjarahan oleh manusia yang mengambil telur-telur tersebut segera setelah Induk-induk dari penyu tadi bertelur. Kondisi ini semakin menurunkan populasi penyu laut di lingkungan asli mereka.

Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam (Kasim, 2009).

Penyu belum bisa ditangkar secara murni, sebagaimana buaya. Sebab ia harus hidup di habitat khusus, yaitu perairan laut. Kalau tidak ada kesadaran dari masyarakat, sulit untuk mempertahankan (apalagi meningkatkan) populasi penyu di Indonesia. Beberapa upaya dilakukan untuk melestarikan penyu ini, salah satunya adalah penangkaran penyu.

Untuk mewujudkan upaya tersebut, maka pada tahun 2002 di pesisir pantai Batuhiu telah dibentuk Kelompok Penangkaran Biota Laut (KPBL) Batu Hiu, yang merupakan satu-satunya kelompok atau organisasi masyarakat yang peduli akan pelestarian dan konservasi biota laut di Kabupaten Pangandaran. KPBL Batu Hiu ini selalu eksis dalam pelestarian biota laut khususnya pada pelestarian anak penyu (tukik).

Kelompok Penangkaran Biota Laut (KPBL) Batu Hiu berada di Desa Ciliang Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran yang memiliki objek wisata berskala nasional yaitu objek wisata Pantai Batu Hiu, dan lokasinya berdampingan dengan lokasi kegiatan konservasi anak penyu (tukik) (Desa Ciliang, 2009), sehingga sangat berpotensi untuk pengembangan ekowisata pantai.

Pantai Batu Hiu terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, dan terletak 14 kilometer dari Pangandaran ke arah Barat yang merupakan obyek wisata pantai yang terkenal akan karang besarnya yang menyerupai ikan hiu. Di pantai ini dapat disaksikan panorama Samudera Indonesia yang membentang luas dengan deburan ombaknya yang menggulung putih. Selain itu, dapat dinikmati pula panorama pantainya yang sangat indah, yang berbatasan dengan perbukitan hijau yang banyak pohon pandan wangi.[1]

Selain wisata pantainya yang indah tersebut, di Desa Ciliang juga terdapat penangkaran penyu, yaitu penyu sisik dan penyu hijau. Menurut Mangunjaya (2008) dan Halim dan Dermawan (1999), di dunia terdapat tujuh jenis penyu, enam diantaranya hidup dan mencari makan di laut Indonesia. Enam jenis penyu tersebut adalah: penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coracea), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu pipih (Natator depressus), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu tempayan (Caretta caretta).

Salah satu kendala yang dihadapi dalam kegiatan penangkaran penyu tersebut adalah masih banyaknya pemburu telur penyu untuk dikonsumsi dan perburuan kerapas penyu untuk dijadikan cindera mata. Kondisi ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi kelangsungan penyu di wilayah Pangandaran. Ketua Kelompok Penangkaran Biota Laut Batu Hiu, Didin Saepudin mengakui masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya pelestarian penyu. “Warga luar masih sering berburu telur penyu dan juga berburu penyu di kawasan Batu Hiu. Harus ada sosialisasi penyadaran pada masyarakat tentang undang-undang konservasi penyu,” kata Didin.[2]

Kegiatan penangkaran penyu meliputi pengumpulan telur, penetasan, dan pelepasan anak penyu (tukik) ke laut lepas. Kegiatan-kegiatan ini ditambah dengan kegiatan pengamatan pada saat penyu sedang bertelur, mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai obyek wisata, apalagi didukung dengan adanya wisata pantai Batu Hiu. Dengan demikian, kegiatan penangkaran penyu dapat dijadikan sebagai wisata lingkungan (ekowisata).

Pengertian ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggungjawab terhadap kelestarian alam (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Pendekatan lain bahwa ekowisata harus dapat menjamin kelestarian lingkungan. Maksud dari menjamin kelestarian ini seperti halnya tujuan konservasi sebagai berikut: (1) Menjaga tetap berlangsungnya proses ekologis yang tetap mendukung sistem kehidupan, (2) Melindungi keanekaragaman hayati, dan (3) Menjamin kelestarian dan pemanfaatan spesies dan ekosistemnya.

Ekowisata diberi batasan sebagai bentuk dan kegiatan wisata yang bertumpu pada lingkungan dan bermanfaat secara ekologi, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat lokal serta bagi kelestarian sumberdaya alam dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Lima aspek utama untuk berkembangnya ekowisata adalah : (1) adanya keaslian lingkungan alam dan budaya (2) keberadaan dan daya dukung masyarakat (3) pendidikan dan pengalaman (4) berkelanjutan dan (5) kemampuan manajemen dalam pengelolaan ekowisata (Choy, 1997).

Ekowisata (ecotourism) menekankan pada faktor daerah alami dan telah dikembangkan sejak 1980 sebagai suatu perjalanan bertanggungjawab ke lingkungan alami yang mendukung konservasi dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Ekowisata ditekankan pada sektor sejarah dan budaya, etnis, pendidikan lingkungan, proses ekonomi, pelestarian, petualangan, dan pengetahuan serta konservasi (Marjuka, 2007).

Batasan-batasan ekowisata adalah sebagai berikut: (1) Menginginkan pengalaman asli, (2) Layak dijalani secara pribadi maupun sosial, (3) Tak ada rencana perjalanan yang ketat, (4) Tantangan fisik dan mental, (5) Interaksi dengan budaya dan penduduk setempat, (6) Toleran pada ketidaknyamanan, (7) Bersikap aktif dan terlibat, (8) Lebih suka petualangan dari pada pengalaman.

Terdapat lima faktor pokok yang mendasar di dalam ekowisata, yaitu: Lingkungan, Masyarakat, Pendidikan dan Pengalaman, Keberlanjutan, dan Manajemen. Ecoturism Research Group (1996), membatasi tentang ekowisata bertumpu pada lingkungan alam dan budaya yang terkait dengan: (1) Mendidik tentang fungsi dan manfaat lingkungan, (2) Meningkatkan kesadaran lingkungan, (3) Bermanfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi, dan (3) Menyumbang langsung pada keberkelanjutan. Ekowisata tidak setara dengan wisata alam.

Choy (1997) merumuskan lima faktor batasan yang mendasar dalam penentuan prinsip utama ekowisata. Faktor pertama adalah lingkungan; ekowisata bertumpu pada lingkungan alam, budaya alami. Yang kedua adalah masyarakat; ekowisata bermanfaat ekologi, sosial dan ekonomi pada masyarakat. Sedangkan yang ketiga adalah pendidikan dan pengalaman; ekowisata harus dapat meningkatkan pemahaman akan lingkungan alam dan budaya dengan adanya pengalaman yang dimiliki. Yang keempat adalah berkelanjutan; ekowisata memberikan sumbangan positif bagi keberlanjutan ekologi lingkungan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan yang terakhir adalah manajemeni, ekowisata harus dikelola secara baik dan menjamin sustainability.

Tidak hanya dampak positif, kegiatan ekowisata dapat berpotensi memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, baik terhadap lingkungan obyek ekowisata maupun terhadap lingkungan sosial budaya setempat. Lingkungan didefinisikan dahulu sebagai sesuatu yang terdiri atas tiga komponen, yaitu lingkungan alam, binaan dan budaya yang saling terkait dan akan ada pengaruh lintas komponen yang dikaitkan dengan pembangunan pariwisata.

Dampak negatif pada lingkungan budaya dapat dibagi dalam 6 komponen lingkungan yang akan rusak atau berubah, yaitu: (1) nilai dan kepercayaan, (2) moral, (3) perilaku, (4) seni dan kerajinan, (5) hukum dan ketertiban, dan (6) sejarah. Sedangkan dampak negatif lainnya yang akan terjadi pada Lingkungan Binaan dan Lingkungan Alam, yaitu pada: (1) flora dan fauna, (2) polusi, (3) erosi, (4) sumber daya alam, (5) pemandangan.

Pemerintah Indonesia telah menempatkan sektor pariwisata ini sebagai sektor pembangunan dengan skala prioritas yang strategis. Dukungan sumberdaya alam serta keragaman seni dan budaya merupakan modal dasar bagi pengembangannya (Spillane, 1989). Pertumbuhan pariwisata yang tinggi akan memberikan dampak berganda (multiplier effects) terhadap pembangunan sektor terkait dalam perekonomian daerah dan nasional (Mathison and Wall, 1993; Bull, 1995).

Contoh dampak positif dari adanya pariwisata adalah peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja di kawasan wisata Gili Indah, Lombok Barat. Kehadiran pariwisata memberikan dampak positif terhadap kesempatan kerja dan kenaikan pendapatan akibat dari perkembangan pariwisata di kawasan itu baik dari usaha yang telah ada maupun dari sumber pendapatan baru (Yakin, 2007).

Adanya kepentingan ekonomi komunitas lokal dan nasional pada satu sisi dan semakin mengkhawatirkannya tingkat kerusakan sumberdaya dan lingkungan yang terjadi merupakan bukti bahwa pilihan-pilihan kebijakan lingkungan dan model pengelolaan sumberdaya pantai dan kelautan berkelanjutan menjadi sangat penting untuk diidentifikasi dan dirumuskan.

Sumber:


[2] http://www.kabar-priangan.com/news/detail/5182

Bull, A., 1995. The Economics of Travel and Tourism. Second Edition. Melbourne: Longman Australia Pty. Ltd.

Choy, D.L. 1997. Perencanaan Ekowisata. Belajar dari Pengalaman di South East Queesland. Proceedings on The Planning and Workshop of Planning Sustainable Tourism. Penerbit ITB. Bandung.

Desa Ciliang. 2009. Monografi Desa Ciliang. Parigi. Ciamis.

KPBL Batu Hiu. 2009. Selayang Pandang. Kelompok Penangkaran Biota Laut (KPBL) Batu Hiu. Ciamis.

Kasim, M. 2009. Penyu. http://maruf.wordpress.com/2006/01/03/penyu-laut-hewan-cantik-yang-tergusur/. Diakses 14 September 2013.

Halim dan Dermawan, 1999. Marine Tuftle Research, Management and Conservation in lndonesia. Report of The Seafdec – Asean Regional, Workshop on Sea Tuftle Conseruation and Managemenf. ISBN 983-91 1 4-10-7 (in Malaysia).

Mangunjaya, F. 2008. Menyelamatkan Penyu Indonesia. Majalah Tropika, Edisi Musim Panen (April – Juni) 2008. Vol.12 No.2. Hal: 8-12.

Marjuka, M.Y. 2007. Valuasi Ekonomi dengan Travel Cost Method pada Obyek Ekosiwata Pulau-Pulau Kecil (Kasus Kawasan Kepulauan Seribu). Bina Ekonomi Majalah llmiah Fakultas Ekonomi Unpar, Volume 11, Nomor 2, Agustus 2007.

Mathieson, A. and Geoffrey Wall. 1993. Tourism: Economic, Physical and Social Impacts. New York: Longman Scientific and Technical and John Wiley and sons Inc.

Spillane, J. J., 1989. Ekonomi Pariwisata: Sejarah dan prospeknya. Penerbit Kanisius. Jakarta. Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Coretanku. Tandai permalink.