Potensi Pengembangan Rebung Bambu

Bambu merupakan tanaman yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tanaman ini sudah menyebar di seluruh kawasan nusantara. Bambu dapat tumbuh di daerah iklim basah sampai kering, dari dataran rendah hingga ke daerah pegunungan. Di pedesaan sering kali dijumpai tanaman bambu rakyat yang ditanam di lahan- lahan tertentu seperti di pekarangan, tepi sungai, tepi jurang, atau pada batas-batas pemilikan lahan. Pemanfaatan bambu di Indonesia sudah berlangsung sangat lama dan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa. Hal ini dapat dilihat dari bangunan rumah yang hampir semuanya menggunakan bahan dari bambu (Berlian dan Estu Rahayu, 1995).

Selain digunakan sebagai bahan bangunan, kerajinan tangan, dan sebagainya, bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dalam bentuk rebung. Jenis-jenis tertentu rebungnya dapat dimakan karena kadar HCN kecil atau sama sekali tidak ada, rasanya memenuhi selera, lunak dan warnanya menarik. Kandungan gizinya cukup memadai sebagai sumber mineral dan vitamin.

Terdapat 145 jenis spesies bambu asli Indonesia. Dari jenis-jenis tersebut terdapat beberapa jenis bambu yang rebung bisa dikonsumsi dan bernilai ekonomis tinggi seperti bambu betung, bambu legi, bambu andong, bambu mayan, dan bambu tabah. Bambu tabah merupakan bambu yang paling menjanjikan untuk diproduksi rebungnya. Rebung bambu tabah disukai karena rasanya enak dan tidak pahit, tidak seperti rebung bambu betung. Oleh sebab itu bambu tabah potensial untuk dikebunkan. Bambu tabah akan bertunas pada umur 3 tahun setelah tanam. Setiap hektar bambu tabah mampu menghasilkan 3 ton rebung bersih per tahun dengan rata-rata produksi satu rumpun 60 kg rebung kupas per tahun.

Bagaimana kondisi pasar rebung sesungguhnya? Sejauh ini pasar rebung bambu masih terbentang luas. Kebutuhan rebung bambu di tanah air hampir seluruhnya mengandalkan impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2011, Indonesia mengimpor 139.527 kg rebung bambu dengan nilai mencapai US$ 100.633 atau setara dengan Rp 9,6 miliar (1 US$ = Rp 9.600,-). Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2010 Indonesia mengimpor rebung sebanyak 125,463 kg dengan nilai Rp 907 juta. Data BPS menunjukkan hingga Oktober 2012, Indonesia mengimpor 68.890 kg setara Rp 6,6 miliar. Seluruh pasokan rebung bambu datang dari China.

Di Jepang, China, dan Thailand, bambu telah dikebunkan secara serius. Jarak tanamnya diatur rapi. Lahan di bawah tegakan bambu itu bersih. Dalam satu rumpun bambu hanya akan dipelihara maksimal 5 batang. Karena kebun bambu ini memperoleh pengairan, maka panen rebung bisa dilakukan secara teratur sepanjang tahun. Kecuali di kawasan sub tropis (bersalju), yang panen rebungnya ditentukan oleh musim. Bukan oleh faktor pengairan. Pada musim dingin, tanaman bambu akan menjalani istirahat panjang (dorman). Begitu musim semi tiba, maka rebung pun akan bermunculan. Meskipun diberi pengairan cukup, panen rebung di kawasan sub tropis hanya akan terjadi sekali dalam setahun. Di kawasan tropis, bambu akan mampu menghasilkan rebung sepanjang tahun, asal airnya cukup. Secara alamiah, pada musim kemarau, bambu di kawasan tropis juga akan mengalami masa istirahat. Namun pada saat itu sinar matahari justru sedang optimal. Hingga dengan adanya air irigasi, maka produktivitas rebung justru akan lebih tinggi pada musim kemarau tersebut.

 

 

 

 

Berlian, N. dan Estu Rahayu. 1995. Jenis dan Prospek Bisnis Bambu. Penebar Swadaya. Jakarta.

http://foragri.blogsome.com/berkebun-rebung-bambu/

http://www.bebeja.com/ayo-produksi-rebung-bambu/

Pos ini dipublikasikan di Coretanku. Tandai permalink.