Bingung………….

Bingung……barangkali kalimat itulah yang tersirat dalam benak kebanyakan mahasiswa ketika dihadapkan pada pengerjaan tugas akhir. Bingung harus mulai dari mana, bingung harus menulis apa, bingung harus mengambil judul apa, dan masih banyak lagi kebingungan-kebingungan yang lainnya.

Yang menjadi syarat penting dalam melakukan suatu penelitian adalah bahwa penelitian harus dilakukan secara sistematis, berencana dan mengikuti metode ilmiah. Sistematis artinya bahwa penelitian tersebut dilaksanakan menurut pola tertentu mulai dari yang paling sederhana menuju hal yang paling kompleks. Berencana artinya bahwa penelitian tersebut dilakukan dengan sengaja dan mempunyai tujuan yang jelas. Mengikuti metode ilmiah artinya mengikuti urutan langkah-langkah dalam metode ilmiah.

Dalam menulis tugas akhir, skripsi misalnya, ada beberapa langkah yang yarus dilalui, yaitu:

  1. Memilih masalah.

Masalah dapat bersumber dari pengalaman pribadi, hasil membaca buku, dan bisa juga pemberian orang lain. Secara utuh masalah tersebut dirumuskan dalam judul penelitian. Judul penelitian dipilih tentunya ada hal yang menjadi alasannya, yaitu: 1) sesuai dengan minat dan keahlian peneliti; 2) penelitian tersebut dapat dilaksanakan; 3) tersedia faktor pendukung; dan 4) hasil penelitian tersebut bermanfaat. Tersedianya faktor pendukung tersebut adalah adanya data yang diperlukan untuk memecahkan masalah penelitian, serta adanya ijin dari yang berwenang (instansi/lembaga terkait).

Paling tidak terdapat 4 hal yang menjadi pertimbangan peneliti bahwa penelitian tersebut dapat dilaksanakan atau tidak, yaitu: 1) Secara teoritis peneliti menguasai permasalahan yang akan diteliti; 2)        ketersediaan waktu yang memadai; 3)  Tenaga yang memungkinkan untuk melakukan penelitian; dan 4) tersedianya dana yang mencukupi.

Jenis permasalahan yang dapat diangkat oleh peneliti ada 3 jenis, yaitu: 1) Permasalahan untuk mengetahui status dan menggambarkan fenomena. Sehubungan dengan jenis permasalahan ini terjadilah penelitian deskriptif (termasuk di dalamnya survey), penelitian historis, dan penelitian filosofis; 2)   Permasalahan untuk membandingkan dua variabel atau lebih, sehingga muncul problem komparasi. Dalam penelitian ini peneliti berusaha mencari persamaan dan perbedaan fenomena, selanjutnya mencari arti atau manfaat atas adanya persamaan dan perbedaan yang ada; 3)    Permasalahan untuk mencari hubungan antara dua fenomena, selanjutnya muncul problem korelasi. Terdapat dua jenis problem korelasi, yaitu korelasi sejajar dan korelasi sebab akibat.

Judul penelitian merupakan gambaran ringkas mengenai penelitian yang akan dilakukan, sehingga dengan membaca judul penelitian, maka orang lain akan mengetahui tujuan penelitian yang akan dilakukan.

2. Merumuskan latar belakang.

Latar belakang penelitian bertitik tolak dari masalah yang tersirat dalam variabel tak bebas dan dikemukakan secara umum. Pemilihan pokok permasalahan harusnya yang aktual dan sedang menjadi pusat perhatian atau hal yang menarik dan peneliti mempunyai kemampuan untuk menelitinya. Peneliti selanjutnya menjelaskan mengapa masalah yang akan diteliti penting, baik bagi peneliti yang bersangkutan maupun bagi pihak lain. Merumuskan masalah didasarkan pada gejala-gejala yang telah dipilih dari studi pendahuluan di lapangan. Uraikan keadaan berbagai gejala yang memperlihatkan penyimpangan. Kemukakan argumentasi sehingga terlihat adanya kesenjangan (tidak sesuainya antara harapan dengan kenyataan) dalam praktek. Ketidak sesuaian antar fakta yang ditunjang oleh gejala yang relevan dengan harapan atau hal yang seharusnya terjadi. Gejala dapat dijelaskan dengan dukungan fakta-fakta, contoh kasus, data dalam bentuk tabel, diagram, dan dalam bentuk lainnya. Setelah peneliti memilih atau merumuskan masalah seperti yang dikemukakan dalam variabel tak bebas (dependen variabel), selanjutnya berdasarkan fakta di lapangan, peneliti dapat menduga dan memilih variabel lain yang dianggap paling dominan sebagai penyebab masalah tersebut yang selanjutnya disebut dengan variabel bebas (independen variabel). Dugaan tersebut dilandasi oleh beberapa teori dan empiris yang telah dipelajari terlebih dahulu dan sering pula disebut dengan studi kepustakaan atau studi literatur, sehingga kedua variabel (variabel bebas dan variabel tak bebas) dapat diukur. Pengukurannya adalah teori-teori yang dianggap paling tepat menurut studi pustaka. Dengan berpijak pada masalah yang telah dituangkan dalam latar belakang penelitian, selanjutnya dilengkapi dengan fakta, peneliti akan mampu mempertahankan dan mempertanggungjawabkannya.

3. Merumuskan identifikasi atau rumusan masalah.

Langkah ini dimulai dengan menyatakan objek penelitian, yaitu hal-hal apa yang menjadi cakupan dalam penelitian. Masalah muncul karena adanya kesenjangan (gap) atau adanya ketidakseimbangan antara sesuatu yang diharapkan menurut teori/hukum/dalil yang menjadi patokan dengan kenyataan/empiris, sehingga menimbulkan tantangan, membingungkan, dan pertanyaan terhadap diri peneliti mengenai hal-hal yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan penelitian.

4. Merumuskan tujuan penelitian.

Tujuan adalah segala sesuatu yang ingin diwujudkan melalui tindakan/kegiatan. Dalam penelitian yang lebih mendalam tujuan penelitian paling tidak mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:

a. Menemukan objek/variabel penelitian yang diteliti.

b. Mengembangkan objek/permasalahan/variabel yang diteliti.

c. Menerapkan variabel tersebut dalam dunia empiris..

5. Merumuskan kerangka pemikiran.

Kerangka pemikiran (longitudinal construct) digunakan apabila penelitian yang akan dilakukan terdiri atas dua variabel atau lebih, baik yang bersifat komparatif maupun korelatif. Bila penelitian yang akan dilakukan bersifat deskriptif maupun filosofis cukup menggunakan pendekatan masalah. Kerangka pemikiran merupakan justifikasi landasan ilmiah yang didukung oleh kemampuan peneliti dalam meramu dan menganalisis teori yang berlaku serta informasi penunjang dari berbagai sumber, dalam rangka menyusun pemikiran baru sebagaimana tercermin dalam hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Sedangkan pendekatan masalah adalah narasi/uraian yang rinci mengenai bagaimana permasalahannya didekati secara konseptual dan empiris. Dalam menyusun kerangka pemikiran maupun pendekatan masalah, peneliti harus menerapkan cara berfikir induktif maupun deduktif. Cara berpikir induktif adalah cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang bersifat khusus menuju ke hal-hal yang bersifat umum dan selanjutnya ditarik kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan cara berpikir deduktif adalah cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang bersifat umum menuju ke hal-hal yang bersifat khusus dan selanjutnya ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.

6. Merumuskan hipotesis.

Secara etimologi hipotesis berasal dari  dua kata, yaitu hypo artinya di bawah/sebelum, sedangkan thesis artinya kesimpulan. Secara harfiah hipotesis adalah kesimpulan sementara. Jadi hipotsis adalah kesimpulan sementara yang diyakini kebenarannya oleh peneliti, namun masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Dalam literatur-literatur lain ada juga yang menyatakan bahwa hipotesis adalah dugaan sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya. Rumusan hipotesis hanya diperuntukan bagi jenis penelitian komparatif dan penelitian korelatif.

7. Memilih teori yang digunakan dan memilih kepustakaan.

Teori yang digunakan dalam penelitian hendaknya teori yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti, disamping harus aktual/terbaru. Dalam menyajikan teori hendaknya memilih terlebih dahulu teori yang paling akbar (grand theory), teori ini sifatnya lebih umum yang bersumber secara filosofi atau normatif, misalnya kutipan dari Al-Qur’an. Setelah membahas teori akbar selanjutnya peneliti mengarah pada teori tingkat menengah (middle range theory). Teori yang berada diantara filosofi dan implementasi sehingga keadaannya belum lengkap, misalnya bersumber dari Al-Hadits. Selanjutnya peneliti mengkaitkannya pada hal-hal yang lebih teknis dengan menggunakan teori aksi/tindakan yang lebih bersifat implementatif.

8. Menentukan variabel.

Variabel penelitian pada dasarnya adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.

9. Menentukan sumber data/responden/unit analisis.

Sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh. Jika peneliti menggunakan angket/kuesioner atau wawancara dalam mengumpulkan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespons atau menjawab pertanyaan penelitian baik secara lisan maupun tertulis. Salah satu kesalahan yang biasa terjadi adalah membuat pertanyaan dengan menggunakan skala ordinal, tetapi berupa skala sikap padahal yang akan diukur adalah persepsi. Jika peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya adalah berupa benda, gerak atau proses sesuatu. Peneliti yang meneliti budidaya ikan di kolam, maka sumber datanya adalah ikan, subjeknya adalah pertumbuhan ikan. Jika peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatan yang menjadi sumber data, sedangkan isi catatan adalah subjek penelitian.

10. Memilih metode penelitian.

Memilih metode penelitian harus sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Terdapat perbedaan antara metode penelitian dengan metodologi penelitian. Metode penelitian mempunyai arti urutan langkah-langkah dalam melaksanakan penelitian berikut teknik atau alat-alat untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut, serta cara kerja dan alat-alat yang digunakan. Sedangkan metodologi penelitian mempuyai pengertian pengetahuan tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan dengan objek penelitian dari cabang-cabang ilmu tertentu, serta penjelasan tentang alasan penggunaan metode penelitian yang dipilih.

11. Menentukan teknik penelitian.

Teknik penelitian berhubungan dengan cara-cara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data penelitiannya.

12. Menentukan populasi dan sampel (sampling).

Populasi adalah seluruh subjek yang diteliti, sedangkan sampel adalah wakil atau sebagian dari populasi, dan sampling adalah teknik penarikan sampel.

13. Membuat operasionalisasi variabel.

Operasionalisasi variabel digunakan adalah untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis data hasil penelitian.

14. Menganalisis data dan melakukan pembahasan.

Langkah ini sangat penting dalam penelitian sosial. Apabila kurang dipahami dan tidak dikerjakan dengan sungguh sungguh, maka hasil penelitian kurang memuaskan. Terhadap data yang sudah terkumpul dan diolah, peneliti segera menetapkan analisis apa yang sekiranya dapat dilakukan, analisis kualitatif, atau kuantitatif, atau kedua duanya. Pada tahap analisis data, secara nyata kemampuan metodologis peneliti diuji karena pada tahap ini ketelitian dan pencurahan daya pikir diperlukan secara optimal. Di sini diperlukan ketajaman berpikir. Apabila analisis data yang dilakukan tidak sesuai dengan tipe dan tujuan penelitian serta karakteristik data yang terkumpul, maka akibatnya sangat fatal. Apabila data yang terkumpul kebanyakan bersifat pengukuran (berupa angka angka), maka analisis dilakukan secara kuantitatif. Tetapi apabila sulit diukur dengan angka, maka analisis data dilakukan secara kualitatif. Pada penelitian sosial umumnya seringkali digunakan analisis kualitatif. Data yang sudah dianalisis dibuat dalam bentuk laporan penelitian.

15. Menarik kesimpulan dan membuat saran.

Kesimpulan adalah sebagai keputusan akhir setelah data dianalisis dan dibahas. Dalam penulisan skripsi kesimpulan dan saran biasanya disediakan dalam bab tersendiri. Kesimpulan penelitian mengacu pada analisis dan pembahasan. Dengan demikian kesimpulan adalah perwujudan dari tujuan penelitian dan tujuan penelitian itu sendiri merupakan perwujudan atas masalah yang sudah dipecahkan. Jika identifikasi atau perumusan masalah ada 3 (tiga) maka tujuan penelitian juga harus ada 3 (tiga), dengan demikian maka kesimpulannya juga harus ada 3 (tiga). Saran terdiri atas saran konseptual dan saran implementatif yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak.

16. Menulis daftar pustaka.

Dalam penulisan karya ilmiah, termsuk di dalamnya adalah skripsi, harus didasarkan pada gramatika dan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam penulisan daftar pustaka ini nama pengarang/penulis buku haruslah disusun secara alfabetik.

Sumber:

Arikunto, Suharismi. 2006. Prosedur Penelitin Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Pos ini dipublikasikan di Coretanku. Tandai permalink.