Asa Untuk Kedamaian

Beberapa minggu ke belakang hampir seluruh stasiun televisi di negeri ini memberitakan tentang terjadinya tawuran antar siswa SMA di Jakarta yang sampai memakan korban jiwa. Sepertinya belum kering duka yang dirasakan oleh keluarga korban, muncul lagi kejadian tawuran yang kali ini adalah tawuran antar mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Makasar. Kejadian-kejadian tersebut sebenarnya dipicu oleh hal-hal yang sepele yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Apa yang akan terjadi dengan bangsa ini seandainya generasi penerusnya seperti itu?

Menyikapi hal tersebut saya teringat akan salah satu untaian kata-kata mutiara yang merupakan pesan Syeik Abdullah Bin Nur Muhammad yang lebih dikenal dengan nama “Abah Sepuh” pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya kepada segenap murid-muridnya. Naskah aslinya ditulis dalam Bahasa Sunda yang bunyinya seperti ini: “ulah medal sila upama kapanah” yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Jangan mengubah sikap walau disakiti orang“. Sungguh suatu ungkapan yang mempunyai makna sangat dalam.

Kasus tawuran yang tadi diceritakan sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya para pelakunya yang notabene adalah kaum terpelajar mengaplikasikan pelajaran agama dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Agama Islam mengajarkan kepada kita untuk memiliki budi pekerti luhur. Ajaran budi pekerti menuntut kita agar selalu berbuat kebaikan, kebenaran, serta memupuk keharmonisan hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan, atau sering disebut dengan konsep tri hita karana.

Salah satu bagian dari konsep tri hita karana adalah hubungan manusia dengan manusia. Untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antar sesama umat manusia adalah dengan mengembangkan sikap toleransi dalam etika pergaulan.

Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos”, yang artinya watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “mos” dan dalam bentuk jamaknya “mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal yang buruk.

Berkaitan dengan etika bermasyarakat, Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 10 yang artinya:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

Selain itu Allah SWT berfirman juga dalam Al Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Mudah-mudahan negeri yang indah ini senantiasa diisi dengan kedamaian. “Damai itu indah kawan” ………

Sebagian dikutip dari:

http://ngawadul.wordpress.com/2011/06/15/memahami-ayat-ayat-al-qur%E2%80%99an-toleransi-dan-etika-pergaulan/

http://id.wikipedia.org/wiki/Etika

Pos ini dipublikasikan di Coretanku. Tandai permalink.